Revolusi industri 4.0 merupakan era baru dimana seluruh aspek kehidupan manusia akan didominasi oleh teknologi, khususnya internet. Salah satu sektor penting yang akan terkena dampak dari revolusi industri 4.0 adalah sektor pertanian, dimana sektor ini merupakan salah satu sumber perekonomian terbesar di Indonesia.

Dosen tetap Universitas Gunadarma, Dr. Sigit Widianto, Msc mengatakan ada beberapa tantangan industri 4.0 di sektor pertanian.

Menurutnya, yang pertama bagaimana kemampuan kita mampu dan berhasil mencapai ketahanan pangan, energi dan air tanpa merusak daya alam dan lingkungan sekitar.

Tantangan kedua adalah dapatkan ICT dan intelligent systems mampu berperan mencapai target poin-1 di era industri 4.0, tantangan ketiga bagaimana strategi yang digunakan dalam mengelola data, informasi dan pengetahuan pertanian.

“Sedangkan tantangan yang terakhir apakah revolusi industri 4.0 bisa sukses seperti Revolusi Industri 3.0, 2.0 dan 1.0 di sektor pertanian,” ujar Sigit saat menjadi pembicara dalam FGD yang bertemakan ‘Penerapan Teknologi Pertanian Cerdas 4.0 Dan Blackchain Untuk Daya Saing Pangan Nasional’ di Kantor PPSN, Jakarta, Kamis (22/8).

Dalam hal ini, Sigit mengatakan bahwa pertanian itu didukung dengan industri sesuai versinya.
Dia mencontohkan ketika Revolusi Industri 1.0, maka human power sangat berpengaruh, begitu juga dengan Revolusi Industri 4.0 maka akan didukung dengan mechanical engineering, electrical engineering, computer science dan software engineering dan lain sebagainya.

Sigit mengatakan ada beberapa kebutuhan pertanian 4.0 terkait industri 4.0. Dimana dalam hal ini ditopang oleh cyber physical system, internet of things, smart data dan product lifecycle management.

“Bagaimana satu product itu dari mulai akan diproduksi sampai mulai dikonsumsi. Didalamnya itu ada hal-hal yang harus dipenuhi oleh industri 4.0 untuk mendukung pertanian 4.0 seperti pemprosesan sejumlah data besar (big data), intelligent planning dan scheduling process, akses yang fleksibel, mengamankan aliran data koantinu, konstruksi modular dan user friendly,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Sigit juga menyinggung Internet of Things (IoT), sebuah kombinasi sensor dan perangkat kecil yang tertanam (device embedded) dalam objek fisik dan dihubungkan melalui jaringan kabel dan nirkabel yang menghasilkan volume data yang sangat besar.