Wakil Sekjen KTNA Nasional, Zulharman Djusman. S.E mengatakan pemerintah maupun dari pihak swasta harus memberikan dukungan agar Indonesia memiliki pertanian berbasis teknologi tinggi.

Demikian disampaikan Zulharman Djusman saat menjadi pembicara Forum Group Discussion (FGD) bertemakan “Peningkatan kualitas SDM dan Pemberdayaan Petani Menuju Pertanian Modern Dalam Rangka Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional’ di Kantor Pusat Pengkajian Strategi Nasional (PPSN), Kuningan, Jakarta, Kamis (27/2/2020).

“Jadi tidak hanya dari pemerintah, tapi semua kalangan yaitu baik dari swasta maupun dari kalangan-kalangan senior kita sendiri karena teknologi ini sendiri digunakan sebenarnya untuk kaum kaum milenial kita yaitu kaum milenial untuk 5 atau 7 tahun lagi yang akan mengimplementasikan produk-produk milenial ini kepada pertanian di Indonesia,” kata Zulharman.

Dia menilai tanpa ada lompatan ataupun lonjakan modernisasi baik itu masalah alat maupun pendidikannya serta metode-metode baru, maka pertanian di Indonesia tidak akan melonjak dan terus tertinggal dari negara-negara lain.

Dalam hal ini, Zulharman mengatakan pada tahun 1985-1986, Indonesia pernah membantu sumbangan pangan negara Afrika yang sedang dilanda kelaparan dan 22 negara Afrika lainnya. Dan hasil pengumuman gabah dari kelompok tani yang terkumpul 100.150 ton yang di FAO disebut Indonesian Fund Farmer (IFF).

Namun sekarang, berdasarkan data organisasi food sustainability indeks (FSI) skak secara mengejutkan telah menempatkan Ethiopia menjadi negara Adidaya pertanian dan Ketahanan pangan peringkat 12 terbaik dunia, sedangkan Indonesia dalam urutan 21.

Menurutnya hal itu terjadi karena salah satu penyebabnya Indonesia tidak menerapkan teknologi yang terbarukan dan teknologi yang modernisasi.

“Ini karena itu tadi salah satunya yaitu kita tidak menerapkan teknologi yang terbarukan dan teknologi yang modernisasi pada saat ini,” pungkasnya.