Dekan Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc mengatakan pertanian itu sejatinya tidak hanya berfokus di daratan, namun meliputi juga lautan dan udara.

“Hari ini saya ingin berbagi pengamalam tentang agro maritim 4.0. Hampir terlupakan ketika mengunakan istilah agro kita hanya memikirkan yang di darat padahal Indonesia ada lautan bahkan dominasi kita ada di lautan,” ujarnya

Menurutnya pertanian harus mengikuti perkembangan teknologi, sehingga dunia pertanian tidak ditinggalkan oleh generasi muda.

“Allhamdulillah bahwa IPB ingin membuat pertanian di Indonesia mengikuti perkembangan teknologi karena kalau tidak generasi anak muda akan meninggalkan pertanian,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam FGD yang bertemakan ‘Penerapan Teknologi Pertanian Cerdas 4.0 Dan Blackchain Untuk Daya Saing Pangan Nasional’ di Kantor PPSN, Jakarta, Kamis (22/8).

Dia menjelaskan Agro Maritim 4.0 intinya memandang darat, laut dan udara sebagai satu kesatuan sistem sosial, ekonomi dan ekologi kompleks yang harus dikelola dengan pendekatan transdisiplin, terpadu dan transformatif yang diarahkan lada karateristik industri 4.0 yaitu big data-driven analytic, real time monitoring dan respone, digital technology support, prescision dan smart decision making and acting.

“Disebut agro maritim 4.0. Intinya bagaimana bisnis pertanian ini dikelola dengn cerdas dan akurat,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa smart and precision agriculture haruslah holistik, tidak lagi membicarakan pra panen dan pasca panen namun lebih memperhatikan semua faktor.

“Jadi yang disebut dengan precision, smart agriculture harus holistik apa itu jangan lagi ngomong prapanen dan pasca panen, negara ini nggak cuma unggul pada on farm, off farm juga harus unggul. Jadi kalau kita unggul dalam prapanen mulai nyiapin lahan sampai panan habis itu di impor ke luar negeri habis itudijadikan produk dan dijual ke Indonesia, kita kena korban mahalnya,” kata dia.

“Harusnya dari hulu ke hilir kita optimalkan semua, itulah gunanya menerapkan revolusi indsutry 4.0 ini supaya hulu hilir menjadi sesuatu yang bisa dipantau pemerintah,” jelasnya.

Pada kesempatan ini, Kudang juga menyinggung Internet of Thing (IoT). Menurutnya IoT itu tidak hanya berhubungan dengan kompter, dan handphone, namun IoT juga bisa dihubungkan dengan pertanian.

“Memang yang kita lihat sekarang ini, IoT kita pikir instrumen komputer, laptop dan hp pernahkan mikirnya itu Thingnya kerbau, Tuna atau Sapi,” tuturnya.

Dia menjelaskan apabila IoT dihubungkan dengan produk pertanian, maka pengelolaan pertanian akan dikelola dengan presisi seperti yang telah diterapkan di negara maju.

“Kalau sapi bisa dimodifikasi pasti kita akan mengelola sapi dengan presisi. Thing ini bisa juga objek pertanian seperti kelapa sawit. Jadi konsepnya harus dirubah,” tuturnya.

“IoT konsep disini yang saya mau tambahkan sama pertanian, T (Things) bukan hanya barang instrumen atau orang tapi bisa dia semua objek pertanian yang merupakan aset bangsa Indonesia. Sehingga thing itu banyak sekali. Dan teknologi ini sudah sangat memungkinkan sehinggaa blackchin bisa,” kata Kudang.

Dalam hal ini, Kudang mengatakan bahwa IoT ternyata juga bisa menghubungkan physical space dengan cyber planet dan data satelite.

Dia menyebut bahwa satelite ini bisa dihubungkan dengan pertanian sebagai pemonitor untuk area pertanuan yang luas.

“Apalagi untuk pertanian area luas untuk suatu monitor nggak bisa hanya dengan sensor yang cakupannya meter persegi,” kata Kudang.

“Sehingga apa yang ada di bumi pengelolaan pertanian ini harus juga memanfaatkan data-data dari drone, wifi, satelite bahkan mungkin pesawat kalau dijinkan asiasi internatirnal bisa menjadi alat pemantauan,” tuturnya.